grootegracht

February 11th, 2009 by oemar-meqy

Saya ingat sekali dulu pernah bertemu dengan dia. Dulu sekali, tapi entah kapan, tapi saya yakin bahwa saya memang pernah bertemu dengan sosok itu. Saya masih ingat detail tubuhnya, saya bahkan masih ingat harum tubuhnya. Dan kini ketika saya berpapasan dengannya dalam sebuah pertemuan tak sengaja, sayapun kembali melontarkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu sekali pernah membuatnya berdesir, terkulai, terlena, terajam panah asmara. Tatapan mata yang sebelumnya saya mintakan pada Eros untuk menghadiahkannya pada suatu petang di Kalibesar. Ya itu dulu…dulu sekali, tapi saya masih menyimpannya, menyimpannya untuk saat-saat seperti ini. Saat dimana saya kembali dipertemukan oleh nasib dengannya. Saat dimana saya kembali dibayang-bayangi oleh kecantikannnya. Saat ini…

***

Saat ini dia kembali hadir dalam hidup saya dengan sempurna. Dia berjalan dengan anggun, dengan pakaian kantor yang elegan, serta sepatu berhak tinggi yang membuat tungkai jenjangnya semakin terlihat menawan. Tubuhnya masih semampai. Matanya masih menyiratkan keinginan yang tertahan dengan malu-malu, dan aih aih bibirnya…bibir itu masih gempal dan menantang untuk segera dilumat. Serta jangan biarkan saya khilaf dengan tidak menyebutkan betapa ramping pinggangnya membuat saya berteriak kegirangan dalam hati.

Sudah sekian lama saya menunggu saat ini. Pertemuan yang kembali terulang di Kalibesar. Saat dimana saya akan kembali terobsesi. Saya hampir lupa sudah berapa lama. Entah dalam hitungan jari, entah ratusan hari, atau bahkan puluhan tahun, yang jelas saya setia menanti…

Saya setia menanti kedatangannya. Kedatangannya kembali ke dunia ini—dunia saya sendiri. Seperti separuh umat bumi yang menyakini kembalinya sang Putra Allah turun ke bumi. Maka saya ikrarkan jiwa untuk meyakini kedatangannya yang juga (pasti) kembali kedalam pusara hidup saya. Terkadang memang saya letih untuk berkeyakinan. Karena keyakinan memerlukan banyak sekali kepingan harap yang sulit sekali diproduksi. Tapi iming-iming hati akan kebahagiaan dan euphoria akan kedatangannya, membuat otak saya berhenti mengeluh. Meski seringpula hati saya mangkel dengan penantian tak berujung pangkal ini. Tokh hati adalah organ tersabar yang saya miliki. Saya pun kembali mencintainya. Cinta yang sudah ratusan kali jatuh di hati saya yang sabar ini. Cinta untuknya…

Cinta untuknya saya berikan pertama kali di pertemuan kami yang pertama. Saya ingat jelas saat itu. Dia berjalan dengan lemah gemulai dalam balutan pakaian yang aduhai membuat hati tuan segera bertanya-tanya siapa nama gerangan. Senyumnya malu-malu, bibirnya yang tebal dipulas gincu merah, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Dia berjalan keluar dari toko obat dengan sedikit berjalan cepat, mungkin sesuatu membuatnya harus buru-buru sampai dirumah, mungkin juga salah satu anggota keluarganya membutuhkan ramuan obat yang ia beli barusan. Tidaklah penting perihal kepentingan nona manis itu, yang penting detik pertama saya melihatnya, detik itu pula saya berikan hati saya sepenuhnya pada nona tak bernama…

Nona tak bernama itu ternyata memiliki nama yang indah… Giok Hwan namanya, anak kedua dari babah penjual tembakau di daerah Glodok. Cerita lengkap mengenai Giok Hwan saya dapatkan dari kacung toko obat cina yang tempo hari ia kunjungi. Kacung itu bilang, Giok Hwan rutin 2 minggu sekali datang ke toko majikannya untuk menebus obat, obat yang dipakai Mami-nya untuk bertahan hidup. Kasihan nona manis itu, masih muda sudah harus menghadapi terik siang demi ibunya yang tak kalah menderita, andai saya dapat membantunya mengantar obat itu ke Glodok… saya rela sekali, selain saya dapat bertemu dengan pujaan hati, saya pun dapat mengurangi beban hidup kekasih tercinta.

Kekasih tercinta yang akhirnya jatuh ke pelukan. Betapa girang hati dibuatnya, tak percuma saya lantunkan do’a diam-diam, berharap Dewi Asmara segera menitah sang putra untuk segera menancapkan panah cinta tepat di dadanya. Di dadanya yang menyembulkan buah ajaib kesayangan Tuhan. Setelah ratusan kali saya layangkan jurus pandangan mata, pada suatu malam nona Giok Hwan menyatakan kesediaanya untuk bersanding bersama. Kebahagiaan saya tak terlukiskan, saya ajak Giok Hwan menikmati kota naik becak, saya manjakan dia dengan es Italia Ragusa bersaudara. Begitu bungah hati saya dibuatnya, melayang lepas ke udara bebas. Di tengah sengatan terik panas Jakarta pada Nopember 1964, saya mantapkan hati dalam sebuah keberuntungan.Keberuntungan yang terpatri kuat dalam ingatan akan kebahagiaan saya yang tidak bertahan lama…

Tidak bertahan lama seperti yang saya impikan sebelumnya. Sebelumnya sudah saya makhtubkan dalam hati untuk segera meminangnya menjadi pendamping. Usia saya sudah cukup mapan saat itu, lagipula usaha saya pun berkembang dengan pesat, tak ada alasan untuk menghalangi saya membangun mahligai rumah tangga bersama kekasih pujaan. Lagipula setiap kali melihat Giok Hwan, sisi kelaki-lakian saya mensyaratkan berahi tak tertahan, sementara di sisi lain saya ingin menjadi lelaki sejati yang mereguknya setelah ia berhasil saya peristri. Duh nona Giok Hwan, kenapa mereka tega memisahkan cinta kita yang tulus dan tak bercela ini. Saya tidak pernah tahu kenapa toko yang dibangun dinasti keluarga saya dengan jujur harus pula dibakar si jago merah. Mereka menyeret saya keluar dari toko, memukuli kepala saya, memukuli kepala orang-orang di sekeliling saya. Padahal saya tidak pernah berbuat jahat pada mereka yang memukuli saya, saya bahkan tidak membenci mereka, saya tidak mengenal mereka. Apa salah Papa dan Mama saya, atau bahkan apa salah saya sendiri. Kami hanya warga keturunan biasa seperti pula keluarga tionghoa yang lain. Saya bingung Giok Hwan, saya bingung kenapa semuanya terjadi begitu cepat, yang saya ingat hanya selebaran bergambar palu dan arit yang dibakar bersamaan dengan hangusnya toko kami. Sungguh hati saya tidak bermaksud mendustaimu, atau bahkan mengingkari janji suci kita. Saya masih akan selalu menanti nona, menantikan bunyi letusan petasan berkali-kali tanda kita melangkahkan kaki ke kehidupan baru…

Kehidupan baru yang akhirnya terpaksa saya jalani tanpa kamu. Setelah peristiwa nahas itu, saya hanya berharap seekor merpati dapat menyampaikan khabar kepergian saya dengan lembut. Supaya kamu tidak terlalu kalut menghadapi kehilangan saya. Maafkan saya Giok Hwan, bukan niat hati tuan meninggalkan nona sendirian dirundung duka. Jikalau tuan mampu, ingin tuan mengajak nona serta, sayang kini tuan berada jauh dari dunia.

Saya masih menyesali perbuatan saya. Saya menyesali kenapa tidak langsung meminangnya ketika ada kesempatan, kenapa harus terencana dan disusun matang. Namun saya percaya, akan ada kehidupan selanjutnya dimana saya dapat kembali bersua dengan nona pujaan hati. Nona saya yang mungkin nanti menjelma menjadi sesuatu yang tak mungkin. Tapi mungkin akan segera saya kenali sosoknya sebagai Giok Hwan…

***

Giok Hwan, itu dia Giok Hwan…saya tidak mungkin salah, dia adalah Giok Hwan yang sama dengan Giok Hwan yang dulu hendak saya pinang. Saya yang membantunya kembali hadir di alam fana. Akhirnya do’a saya terkabulkan sang Maha Kuasa. Giok Hwan lahir dengan sempurna, dia lahir seperti seharusnya, tidak ada satu pun cacat saya temukan. Kali ini saya tidak boleh terlambat lagi, namun tidak mungkin meminangnya saat ini, dia baru saja menjelma bayi manusia berusia 5 menit. Saya tetap harus menantinya, menantinya tumbuh besar menjadi manusia dewasa. Walau beda usia kami kini terpaut 25 tahun, dan saya sudah beranak dua, sudah saya bulatkan tekad untuk menikahinya kelak. Giok Hwan yang malang, takkan kubiarkan kamu kembali sendirian.

“bu bidan, anak saya sehat?”, tanya ibu Giok Hwan yang mukanya pucat.

“sehat”, jawab saya yang masih mengagumi kekasih saya itu.

Tak lama setelah jawaban saya ucapkan, perempuan yang mengantarkan kembali Giok Hwan ke pangkuan saya, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saya tahu ini pertanda jodoh bagi kami. Perempuan itu datang sendirian ke rumah saya, kandungannya yang besar sudah membuat ketubannya pecah, dia sudah pembukaan 3 waktu itu. Saya tanpa basa-basi menolongnya. Saya mengenal perempuan itu sebagai buruh cuci yang tinggal berhimpit di kampung belakang. Suaminya baru saja meninggal akibat tabrak lari, sedang anak-anaknya yang lain…entahlah, mungkin sudah dititipkan ke sanak famili mereka. Yang jelas dan saya tahu pasti, kini Giok Hwan tidak akan jauh-jauh dari saya lagi. (Seharusnya) dia tetap disini…

(Seharusnya) dia tetap disini. Tapi tidak…Giok Hwan, kamu sepertinya masih marah karena kepergian saya dulu. Dia kini pergi mendahului saya, saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Apakah kemarahanmu yang teramat sangat dibawa ke kehidupannya yang baru, ataukah karena gizi yang kurang diberikan si buruh cuci itu semasa hamil. Apapun alasannya, kini Giok Hwan yang cantik harus diambil Tuhan pada usianya yang baru saja 5 bulan. Saya kembali menyesali keterlambatan saya. Seharusnya saya nikahi saja dia ketika pertama kali mendengar jerit tangisnya, tak perlu berlama-lama menunggunya hingga tumbuh menjadi pemuda matang.

Duh Giok Hwan…kenapa, kenapakah sayang? kembali lagi nasib menanggalkan cinta kita di tengah jalan. Malang benar nasib ini dibuat Tuhan. Hendakkah kemalangan ini menjadi suatu kemujuran? Dan saya akan kembali berjumpa dengan nona pujaan hati saya…

Nona pujaan hati saya kini bersemayam dalam tubuh rupawan bernama Gertrude. Ia tinggal di rumah besar berpagar emas. Giok Hwan… tahukah kamu bahwa kecantikanmu yang abadi membawa saya pada petualangan cinta tak berdimensi. Begitu dalam rasa cinta yang saya miliki hingga tak hiraukan nasihat empunya waktu. Sepertinya kamu tak merasa serupa . Kamu hanya memandang saya dari kejauhan untuk kemudian melengos—menjauh sejauh mungkin. Tapi saya tetap berbahagia nona, paling tidak Yang Kuasa memberikan kenikmatan dunia dengan pertemuan kembali ini. Giok Hwan yang manis… sekarang walaupun amarahmu tak juga kunjung reda, saya harap kamu masih mengenali cinta tulus suci milik hati nan sabar ini. Ah nona…maafkanlah keterbatasan tuan. Saya sungguh bodoh hingga belum juga mampu kembali mempersuntingmu. Apalah saya ini, sedang kau hidup dalam gelimang kemewahan, saya terpaksa hidup dari belas kasihan manusia-manusia sekitar. Kalaulah nona sudi berhenti ngambek dan bersanding dengan saya, majikan nona belum tentu mengijinkan anjing betina Pomeranian-nya (begitu saya dengar manusia-manusia itu menyebut jenismu) kawin dengan asu buduk penuh kudis macam saya.Maafkanlah saya nona, maafkan karena berbagai Kamma yang saya tumpuk masih melahirkan Dukha dalam semesta kita yang tak terpetakan.

***

Saya ingat sekali dulu pernah bertemu dengan dia. Dulu sekali, tapi entah kapan, tapi saya yakin bahwa saya memang pernah bertemu dengan sosok itu. Saya masih ingat detail tubuhnya, saya bahkan masih ingat harum tubuhnya. Dan kini ketika saya kembali berpapasan dengannya dalam sebuah pertemuan tak sengaja, sayapun kembali melontarkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang dulu sekali pernah membuatnya berdesir, terkulai, terlena, terajam panah asmara. Tatapan mata yang sebelumnya saya mintakan pada Eros untuk menghadiahkannya pada suatu petang di Kalibesar. Ya itu dulu…dulu sekali, tapi saya masih menyimpannya, menyimpannya untuk saat-saat seperti ini. Saat dimana saya kembali dipertemukan oleh nasib dengannya. Saat dimana saya kembali dibayang-bayangi oleh kecantikannnya. Saat ini…

Saat ini saya mantapkan hati untuk segera memintamu menjadi istri, ibu dari anak-anak saya kelak. Kamulah Giok Hwan yang ratusan tahun sudah saya nanti, dalam ribuan kali kehidupan saya mencintai sosokmu yang kelewat sempurna. Kini Giok Hwan…kini sudikah kamu saya peristri, untuk memenuhi janji yang belum sempat-sempat saya tepati. Saya tidak ingin terlambat Giok Hwan, saya tidak ingin memenuhi kewajiban untuk kembali menanti. Nona… bersediakah kamu menikah dan menjadi pasangan hidup saya yang abadi, bersediakah?!?

“heh mampus lu, dasar kecoak busuk!”.

“udah mati belom?”.

“udah, aku injek pake high heels”.

Ah Giok Hwan, nampaknya kamu memang masih marah…

*19’08’08

aroma deja-vu kota tua dan tegangan skripsi

bus

July 23rd, 2008 by oemar-meqy

(Hari ini sepertinya sepi. Saya pilih sheet 3 dan duduk di deretan paling ujung. Benar saja malam ini kurang banyak penumpang. Ah biarlah, bukannya bagus saya bisa menikmati perjalanan dengan lebih santai. Seharian riuh menyelesaikan masalah buat saya penat dan ingin sejenak menyandarkan kepala. Yah walaupun bangku bus sandarannya kurang nyaman, manusia kan punya kemampuan adaptasi cukup baik).

“jadi kepala naganya itu merah, trus buntutnya ijo”.

“kok beda-beda warnanya?”

“iya dong, kalo gak beda kan gak boleh”.

“sama siapa?”

“sama Tuhan”.

“gak bisa gitu bang, saya udah janji malam ini selesai”

“….”

“yah sebentar lagi saya sampai Jakarta ini”

“iya udah gitu si abangnya bilang yang kemaren aku sms kamu itu”.
“hmmm”.
“lucu banget deh, logatnya itu loh”
“hehe”.
“masa dia bilang, kukawini pula ya kau punya kakak, manis kali kuliat dia itu”.
“gula kali”.

(Celotehan riang penumpang lain seakan meninabobokan saya dalam tidur singkat. Saya suka cerita-serita gak penting mereka, saya suka dengar mereka melepas lelah dengan berbagi sampah. Wah saya kembali sarkas, padahal hari ini rencananya mau duduk manis sambil dengar segala rupa dunia. Tapi tetap saja hati saya membantah. Si otak ini memang gemar kongkow sama telinga buat nguping pembicaraan orang lain. Tapi anehnya si hati yang mustinya mau tahu malah malas dengar cerita-cerita. Saya rasa sih otak saya memang masih menggunakan fungsi 20 % nya untuk jadi otak, sementara si hati karatan dari dulu).


“udah nyampe mana, Ma?”

“sampe Tangerang”.

“lama gak?”.

“bentar lagi”.
“Papa dimana?”.

“kan dirumah nunggu abang sama Dede”.

“hahahaaaaaaa”.


“udah gitu dia ngajak kamu ke Puncak?”

‘iya, lumayan aja kan gratis Bang, lagian cuma nemenin doang ini”.

“yang dikenalin sama si Meylan itu kan?”.

“iya yang boss tambak itu, sumpah kampungan Bang”.

“wajar”.

“tapi biar ah, yang penting fulus”.


“Papa saya pernah keliling dunia loh”.

“Papa saya pernah ke bulan”.

“wah, jauh amat, pulangnya gimana?”.

“kan bawa pesawat, pesawatnya gede banget, segede istana”.

“wah hebat ya Papa kamu”.

“Papa kamu keliling dunianya berapa hari”.

“ehm cuma sehari sih waktu itu”.

“aku gak mau tau, pokoknya malam ini kamu harus sama aku”.

“…..”

“iya, setengah jam lagi aku sampe, trus kamu boleh pulang besok pagi”.

“……”

“harus kan aku kangen”.

 
(Udara makin dingin malam ini, lubang yang menyebarkan hawa dingin dengan bantuan freon perusak bumi bernama AC itu kini saya tutup rapa-rapat. Serapat hati saya yang memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke jalan yang sebelumnya saya tempuh, duh kembali curlong nih. Padahal (lagi-lagi pake padahal) saya sudah bulatkan tekad untuk lupakan semua yang tertinggal di belakang sana. Segala kotoran masa lalu yang sempat mengerak dan susah dihilangkan. Ah saya yakin Jakarta sanggup mengelupas semua kerak lampau itu (dan terbukti pikiran saya benar adanya!)…eugh saya tidur saja ah, otot saya masih sering tremor kalau ingat dia).


“hallo”.

“Ras…”

“…”.

“please”.

“what?”.

“back home”.

“im sorry”.

“no…im sorry, Ras would you?”.
clik.

 
(Dia lagi. Sudah seharian ini namanya mondar-mandir di telepon genggam milik saya. Seharian ini pula saya coba lari dari bayangan seorang Kirana. Kirana yang harus menjalankan keharusannya sebagai seorang perempuan yang dianggap normal. Kiranaku yang manis jadi Siti Nurbaya abad 21, ah Kirana…kamu bodoh, bodoh sekali. Sudah saya bilang berulang kali, jangan mau kalah sama nasib, kenapa harus mau diperbudak peta pikiran manusia lain. Kita ini kan lahir sendiri, mati pun nanti sendiri, kamu manis tapi lemah, membosankan!)


I am thinking it’s a sign that the freckles
In our eyes are mirror images and when
We kiss they’re perfectly aligned*

From : Kirana

 

You know i love you.since the first time we met ‘till now.but it’s a must dear.i have to choose,and marriage it’s my choices.i have to.im sorry,Ras!

 (si bodoh itu lagi, buang-buang pulsa!).


“nanti kita liat naganya kalo sampe Jakarta”

“malem ini?”.

“besok pagi aja”.

“tenang ya sayang”.
“tenang mulu”.
“malem ini beres semuanya Yang”.


“kamu sayang aku gak?”

“kumat”.

“sayang gak?”.

“nanti kita ke Dufan kan Ma?”
“iya kalo abang udah sembuh”.
“janji ya Ma!”.


“kalo macem-macem, telpon istrinya”.

“bisa aja lo”.

“harus bisa dong”.

“kita kapan keliling-keliling?”
“nanti aja”.
“kalo udah gede ya”.


“kalo dia minta nikah gimana Neng?”.

“e cape deh, hari gini”.

“warisannya banyak Neng”.

 
(Arggghhh mata saya mogok merem sekarang. Ini pasti ulah bising manusia-manusia penggemar buang sampah sembarangan. Kenapa pula mereka harus sumbar cerita-cerita tabu yang gak patut dibahas dalam bus. Bodoh bodoh buodoooohhh…sama bodohnya dengan dia. Menikah kok karena harus, keharusan menikah saja sudah bodoh, ini lagi harus menikah, ya jadi mbah nya bodoh. Apa salahnya dua perempuan saling mencinta, tokh kita gak minta uang atau ambil uang negara. Kita kan cuma beda jalur sama makhluk-makhluk lain yang saling-silang. Katanya perbedaan menyelaraskan, ini sedikit berbeda saja sudah mau dirajam, keparat! Arggghhh mereka bodoh, kamu bodoh, kalian bodoh).

“eh…nanti jangan telpon-telpon aku dulu ya,Ras”.

“kenapa?”.

“laki aku cemburuan baby, ntar dia ngamuk”.

“kan dari cewe ini”.

“sama aja ah, ntar aku kangen lagi sama kamu”.

“alah”.

“sayang aku kan?”.

“kumat”.


“kebon jeruk, siap-siap…kebon jeruk”

 


(Sudah waktunya saya pulang, hampir 2 jam saya mencoba tidur dan berkelit dari perempuan manis yang duduk dengan manisnya sambil bergelayut mesra. Perjalanan ini sama tidak pentingnya dengan kedudukan perempuan yang duduk di samping saya. Keberadaannya memang cukup membantu, paling tidak pertukaran hormon endorphine masih bisa berlangsung di hidup saya, sayangnya dia bukan seorang Kirana yang manis. Kirana yang manis sekaligus bodoh, Kiranaku yang menyerahkan diri demi sebuah harga dari kontrak sosial. Bedebah manis itu menancapkan kenangan dengan kejamnya di kepala saya. Sampai-sampai otak saya jadi lebih kotor dari para pemburu gosip selebritis. Aduh Dorya…kamu memang cantik, tubuhmu pun semampai, namun kamu sama menjijikannya dengan Kirana yang tak mau jujur. Kalian perempuan pendusta, mesti mati di neraka, mungkin lebih kejam daripada hukuman bagi pecinta sesama macam saya. Argh…sial, lebih baik segera pulang).

 

“Ras…”
“duluan ya”.

***

*Such a Great Heights – Postal Service

**ketika jarak buat saya menggila dan menahan pipis

Nay itu…

June 29th, 2008 by oemar-meqy

From : nay

well…it’s been 3 day, so where are u?
g jd maen besok. kbarin klo mo plg.
miss y

Saya sedang menikmati sajian bitter ballen dan sesekali menyeruput cokelat panas ketika pesan singkat itu masuk. Pesan dengan tema yang sama. Melulu mengenai pertanyaan keberadaan saya kini. Kalau bukan dari sahabat-sahabat wanita saya, pesan itu akan datang dari pria-pria yang bisa dibilang cukup dekat, atau pada akhirnya saya harus mengaku dekat karena intensitas koneksi via telepon genggam yang aktif. Dan tanggapan saya pun lumayan monoton untuk semua pesan singkat itu…mengabaikannya!
Pesan singkat yang sekarang masih saya
pelototi ini datangnya dari Nay. Nay yang itu…ia seorang Nay, yang….ah!

Nay itu seorang pria yang bernama lengkap Nalendra. Kawan-kawan saya juga kawan-kawan dia biasa memanggilnya Nal. Tapi saya memilih mengganti “L” itu menjadi “Y”, terdengar lebih nyaman ketika diucapkan. Dan sekalipun Nay keberatan pada awalnya (karena anggapan panggilan itu kelewat feminine), panggilan itu tetap saya ucapkan santai—saya memang terlampau tangguh untuk ditaklukkan dengan hanya sekedar keberatan.
Nay itu seperti para pendahulunya. Para pendahulunya yang datang dan pergi di hidup saya sesuka hati. Kedatangan Nay sama tiba-tibanya dengan kedatangan yang lain. Kedatangan Nay sama menakjubkannya dengan kedatangan yang lain. Ked
atangan Nay sama mencengangkannya dengan kedatangan yang lain. Kedatangan Nay pun membuat saya terkejut.
Nay itu sosok manusia yang baik. Hampir 8 tahun ia memilih hidup sehat dan menjalani pola aktifitas manusia tanpa pengaruh racun apapun. Nay yang baik ini juga memiliki masa kelam. Masa yang sudah berhasil diusirnya pergi, masa yang sudah berhasil ditaklukkan.

“Nay the conqueror”
Nay itu berhasil menaklukkan ketaklukannya. Nay berhasil melewati masa-masa kelam, masa-masa kelam yang masih dapat diceritakannya untuk kemudian melukis masa baru di hidupnya. Dia memang tangguh, tangguh ibarat gambaran pria di buku dongeng. Dia bahkan kuat, kuat bagaikan pejuang di cerita-cerita wayang.
Nay itu pria yang membuat saya terpukau. Terpukau dengan rambutnya yang pelontos. Terpukau dengan kebanggaannya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Terpukau dengan kecintaannya yang
tulus pada bangsa. Terpukau dengan usaha kerasnya membina keluarga. Nay…
Nay itu akhirnya saya terima dengan lapang dada di hidup saya. Dengan segala tingkah lakunya yang
urakan, dengan segala kekurangannya yang membuat saya meringis, dengan segala kekonyolannya yang membuat saya tertawa lepas. Nay pun menjadi bagian dari hari-hari saya yang hanya separuh. Dia mengisi ruang kosong yang sebelumnya ditinggal pergi begitu saja. Dia menebarkan kasih sayang yang menggembirakan. Dia pun sekaligus mengembalikan jiwa saya ke alam perjanjian. Membangkitkan paranoia berlebihan akan ikatan.

Ah Nay…kamu membuat saya ngeri. Saya ngeri kalau suatu saat nanti harus menemukan fakta bahwa kamu malaikat yang sudi turun dari surga. Saya ngeri kalau harus menemukan fakta bahwa turunnya kamu ke dunia hanya karena keberadaan saya. Saya ngeri kalau kamu akhirnya justru jatuh tersungkur luka.

Nay itu dengan sabarnya merawat hati saya yang babak belur. Dia jamah lembut permukaan jiwa saya yang memar-memar. Dia rapihkan relung kalbu saya yang habis porak poranda dihantam badai. Nay…sudahlah!

Nay…don’t be such a nice guy”
Nay itu datang dari keluarga yang sederhana. Hanya rumah kecil tanpa pekarangan yang menjadi tempat keluarganya berlindung. Sebuah rumah yang selalu ramai dengan gelak tawa sepasang suami istri lanjut usia yang gemar menikmati sore hari sambil mendengarkan suara serak Janis Joplin. Rumah yang melahirkan wujud cinta ke dunia bernama Narindra, Nalendra, juga Nanindra. Rumah itu…rumah inspirasi bagi Nay. Rumah dimana Nay menuangkan berbagai cerita indah hari-harinya kedalam kanvas. Rumah itu rumah imajinasi bagi Nay. Rumah dimana dia biasa menuangkan mimpi-mimpinya lewat kuas.
Rumah itu rumah kesayangan Nay.
.Rumah itu kini cukup sempit karena separuhnya diisi oleh kanvas dari berbagai ukuran. Karya-karya milik Nay yang belum mujur terjual. Karya-karya yang kelewat idealis saya bilang. Karya-karya yang justru sangat realis Nay bilang. Dia memang aneh. Aneh bin ajaib. Aneh yang membuat saya berpaling. Palingan yang mengisyaratkan keajaiban. Nay memang…ah dia memang seorang Nay.
Nay itu gambaran pria sabar tertutup. Dia sabar menghadapi keganasan trauma masa kecil saya yang berbuah sifat aneh ini. Namun dia tidak terbuka mengenai siapa dirinya, Nay memilih menutup pintu itu rapat. Serapat ia tutupi perasaannya yang tulus pada saya. Nay Nay…akhirnya pertahanan itu
tokh jebol juga.
Nay itu yang menggenggam tangan saya erat di suatu malam tanpa bintang pada sebuah taman. Tindakan luar biasa yang berani ia lakukan setelah 3 bulan menyimpan suka pada saya. Saya ingin menepis tangannya, saya ingin menolak halus bantuannya, saya pun ingin segera lari darinya. Tapi…genggaman itu begitu kuat. Genggaman itu menggungkapkan sejuta janji manis perlindungan. Genggaman itu… genggaman seorang Nay. Genggaman demi genggaman telah saya tepiskan selama ini. Saya hanya ingin menunggu seseorang pulang kembali ke semesta saya yang tak berbentuk. Saya hanya ingin menunggu seseorang yang berada di ujung dunia sana. Tidak Nay…tidak, saat itu saya memang ingin berkata “tidak” ataupun “jangan”. Namun genggamanmu kelewat erat. Saya rasanya ingin lompat. Kami pun memutuskan kebersamaan—pada akhirnya.

“Nay…lets get some sleep!”
Nay itu kemudian menggenggam jari-jemari saya. Utuh dia berikan cinta yang memang seharusnya termiliki. Ia pasrah menanti kesembuhan luka pada jiwa saya. Ia bahkan rela menerima hati yang hanya separuh. Ah Nay…maafkan saya karena menyamaratakan kamu dengan sesama jenismu yang lain. Saya sudah begitu luluh lantak dengan segala macam tedeng aling-aling kalian. Lelah saya menjalar bahkan sampai ke ujung kepala. Saya sudah tak sanggup lagi kalau harus merasakan gagal yang kesekian kalinya dalam tahun ini. Jadi sekarang buktikanlah…buktikan kamu memang setangguh satria dalam bayangan. Buktikan kamu memang sehalus pria dalam impian. Buktikan kamu tidak akan pernah menyakitkan. Saya hanya perlu bukti Nay.Atau ini hanya sebuah…
Nay itu semburat kebahagiaan yang lagi-lagi saya tampik. Sesosok harapan yang lagi-lagi saya tolak. Sebuah keajaiban yang lagi-lagi saya hempas.
Aduh Nay, saya tidak tahan lagi. Saya pergi dulu saja. Beristirahatlah sejenak, dan lupakan tentang saya.
Lalu saya putuskan berjalan kembali ke kota ini. Kota kesembuhan bagi saya.

From : nay

just replied my messages
i really need to know wher r u
please.

Pesan itu kembali masuk. Saya kembali menyulut satu batang rokok putih yang sedari tadi memang membantu saya meredakan serangan dingin udara Bandung. Sudah tiga hari ini saya memang menghilang, keluar dari rutinitas semesta yang sudah saya petakan dari semula. Saya merasa perlu untuk menginjakkan kaki kembali ke kota ini. Kota yang membuat saya jatuh cinta setengah mati, kota yang menenggelamkan pujaan hati saya. Maka berjalanlah saya tiga hari yang lalu ke kota ini. Pergi dari kesibukan 8 jam per hari, dari kawan-kawan sejawat, dari kesenangan, juga dari Nay.
Saya hanya ingin pergi—sendiri.
Saya memang pergi sendiri. Menikmati kehidupan saya yang ruwet dengan egosentris. Saya bahkan tidak menghubungi siapapun. Tidak kawan-kawan, tidak sanak saudara, atau bahkan dia. Saya cuma mau Bandung dan kesendirian. Saya cuma mau jalan kaki sambil ngemil. Saya tidak mau diganggu.
Nay (kembali saya hela nafas ini)…maafkan saya.Sekali lagi maafkan saya. Mungkin saya akan pulang sebentar lagi. Mungkin juga saya lebih baik disini sambil menanti seseorang kembali. Mungkin juga tidak melakukan apapun samasekali.
Maaf.

Nay itu manusia yang saya sembunyikan dari kamu. Pria baik yang melindungi saya setulus hati. Semoga kamu tidak marah akan keputusan saya untuk tetap menunggu. Saya mengerti jelas keinginanmu untuk melepas saya pergi. Tapi saya memang belum mau melepas tali kekang ini. Saya masih mau sakit juga senang dalam satu sisi yang sama. Saya masih mau menjadi bagian yang tertulis juga terhapus bersamaan.
Nay itu mengajarkan arti mencintai dengan tulus. Bagaimana perasaan sungguh mulia bagi manusia. Dia mengajarkan cinta. Dia mengajarkan pengorbanan. Dia mengajarkan ketulusan. Sayangnya…dia tidak mengajarkan saya untuk melupakanmu lalu pergi.
Maaf !!!

Sandra (kembali) menghela nafasnya dalam. Helaan nafas yang sama selama tiga hari ini. Duh Nay…kenapa kamu terlalu baik untuknya!

*untuk Nay…pria imajinasi yang sempurna
(at the end of June, im still here)

20 Juni

June 17th, 2008 by oemar-meqy

Suatu hari saya berpikir, bagaimana kalau saya tidak perlu punya mulut. Bukan bisu tapi memang tak bermulut. Kalau anda pernah baca salah satu cerita pendek seniman gaek Putu Wijaya, anda pasti nggak asing lagi dengan khayalan manusia tanpa mulut ini.

Tapi seperti kebanyakan manusia, saya pun kembali berpikir…memang ada enaknya kalau mulut ini di delete saja dari wajah kita, paling tidak menghilangnya salah satu bagian wajah ini bisa mereduksi dosa. Loh jangan ndak percaya kalau mulut itu berlumur dosa, tengok saja pagi hari di kompleks perumahan. Bukan pemandangan luar biasa lagi kalau banyak ibu rumah tangga beserta para pembantu dipandu tukang sayur tahan berdiri berjam-jam mengitari gerobak sambil sesekali menertawakan lakon rumah tangga sekitar. Atau untuk skala yang lebih besar, kita bisa lihat di layar kaca, betapa tayangan televisi dalam negeri di dominasi oleh infotainment dan sinetron. Terlepas dari itu adalah fakta yang terungkap, buat saya mulut yang usil tetap saja berbuah dosa….Cuma kalau sampai-sampai mulut ini hilang selamanya dari wajah saya, lalu bagaimana nasib bibir saya yang indah, gigi-geligi saya yang dipoles putih suci, atau si lidah yang bukan hanya pandai bersilat pun juga berakrobat. Wah saya belum mau kehilangan kenikmatan duniawi sekarang. Selain daripada itu saya tokh tiba-tiba berpikir tidak ingin punya mulut ini lantara letih berdiri berjam-jam bersama para warga kompleks yang jadwalnya kurang padat itu.

Jadi ah…saya mau berpikir yang lain saja!

Suatu hari setelahnya saya berpikir lagi, bagaimana kalau saya sekarang tidak perlu punya hidung. Bukannya sengaja dihilangkan karena penyakit pernapasan akut seperti sinusitis dan kroni-kroninya, tapi memang tak berhidung (bukan juga pesek karena tulang hidungnya cekung loh ya!)…Tapi benar-benar nggak punya hidung.

Kalau sampai pikiran saya ini jadi nyata, saya sudah bayangkan bagaimana menyenangkannya. Saya akan terbebas dari derita sinus pengganggu ini, saya juga nggak perlu menutup hidung ketika truk sampah tanpa sengaja berlalu, atau yang lebih menyenangkan lagi…saya nggak perlu terobsesi punya hidung mancung bangir macam ras Arya itu….oh indahnya!!!

Tapi lalu…selintas bayangan saya berubah ngeri, terbayang bagaimana menyeramkannya kalau wajah saya begitu rata tanpa hidung yang cuma secuil ini. Betapa tidak menyenangkannya hidup saya tanpa aroma-aroma  harum alam. Atau begitu tidak sempurnanya hari-hari saya tanpa pertukaran nafas yang terengah-engah….wah!

Kalau sudah begini saya tarik lagi keinginan untuk menghilangkan hidung. Saya masih ingin punya hidung, walau hidung ini bentuknya aneh karena terlalu mungil. Saya masih cinta dengan hidung ini, walau sinusitis sungguh mengganggu kegiatan saya sehari-hari. Saya masih pingin punya hidung, walau hidung ini selalu gatal di waktu yang tidak tepat… Bagaimanapun juga ini hidung saya kan!

Suatu hari selanjutnya setelah beberapa hari lepas, saya kembali berpikir. Kali ini katanya kelewat ekstrem karena saya tiba-tiba nggak kepingin punya mata. Padahal menurut desas-desus diluaran, dari keseluruhan wajah saya, mata adalah bagian yang paling enak dilihat. Yah paling tidak nilai jual saya bisa naik karena pengaruh bentuk mata ini.

Tapi saya memang tiba-tiba tidak ingin punya mata. Alangkah gembiranya jika mata saya tidak ada. Bukan buta, tapi memang tidak memiliki mata. Tidak melihat dan tidak bermata.

Saya membayangkan euphoria dari wajah tanpa mata.

Buat hemat saya, selain mulut yang mencibirkan dosa. Mata juga memancarkan timbangan dosa yang sama. Apa pasal? Coba kita tilik, lewat mata kita melihat keindahan, keindahan yang lalu kita nikmati lemat-lemat, lemat-lemat yang membuat kita ingin segera melumat keindahan yang kita lihat…lalu lambat-lambat kita pun ingin memasung keindahan itu sendirian. Itu egois namnaya, dan egois termasuk dosa besar versi saya.

Belum lagi dengan fakta bahwa mata adalah jembatan jatuh cinta. Ungkapan, “dari mata turun ke hati” itu kan benar adanya. Mana ada manusia jatuh cinta tanpa melihat wujud terlebih dahulu, pun tidak memikirkan bagus-tidaknya subjek yang dilihat, manusia akan tetap menilai dengan penglihatan. Dan ini…ini yang buat saya benci setengah mati dengan romansa. Masalahnya kadang-kadang penglihatan lawan jenis terhadap saya, seringkali nggak nyampe ke hati.

Kemudian sekelebat bayangan membuat saya tersadar. Apa bagusnya dunia tanpa sudut pandang. Kalau mata saya hilang, lalu dari sisi mana saya dapat menikmati keindahan alam. Kalau mata saya hilang, dari segi apa saya dapat menganalisa berbagai objek yang ada di dunia. Kalau mata saya hilang, saya pasti absent melihat pria-pria tampan…ah saya belum lagi mau kehilangan. Saya masih mau memandang…sejauh-jauhnya pandangan dapat saya lakukan. Walau mata saya minus 2. Walau mata saya kecil sebelah. Walau mata saya perlu eyeliner untuk terlihat memukau. Saya tetap mau mata saya ada.

Akhirnya kalau dipikir-pikir. Saya masih mau mereka semua ada. Karena kalau saya ulang lagi pikiran saya. Seberapa mengganggunya mereka pun, mereka tetap layak exist di hidup saya. Ah saya jadi terkenang seseorang…seorang manusia yang hadir disaat paling tepat yang tidak tepat. Mungkin dia seperti mulut bagi saya, seperti hidung bagi saya, seperti mata bagi saya…seperti saya yang merasa saya sesekali harus enyah, tapi berulang kali berkeras tetap ada. Ah…sudahlah, rangkaian kata ini begitu panjang saya karang, padahal niatnya…saya hanya ingin mengucapkan selamat berumur panjang; Happy Birthdays, Kang !!!

=)

*untuk dia yang sudah tau siapa…

Kau adalah…

June 10th, 2008 by oemar-meqy

Kau berjalan diatas setapak bebatuan kerikil yang jelasjelas kaurasakan tajam, kau berjalan dihamparan padang berumput yang tak berarah, kau berjalan sendirian—walau kau tak hidup sendiri.

Kau memilih untuk berada di kesunyian yang mencekam, kau mencintai kesepian seperti kau menggilai keramaian, kau bersahabat dekat dengan kesenangan sedekat kau berbincang dengan kesakitan.

Kau lahir atas nama cinta yang mendalam, bahkan ia yang kausebut ibu rela mati untuk mempertahankanmu, namun kau pun tercampur dengan nafsu duniawi yang menggema, dengan tanpa pikiran matang mereka membuatmu, mereka melakukan ritual untuk satu keajaiban yang diturunkan Tuhan, mereka meresapi cinta dengan nista, mereka membanjirimu dengan rasa bersalah di satu sisi, dan kemenangan di sisi lainnya.Sampai akhirnya cinta membuat dua penguasa duniamu berpalingan, kau hanya memandang mereka saling memaki lewat sisi pintu kamar.

Waktu berlalu, beberapa tahun berlalu, beberapa periode harus kaulewati, masa remaja pun telah kaulewati. Kau menjadi bodoh saat itu, ingatkah…ingatkah betapa kau tak pernah bisa menahan rasa sakit kehilangan. Kau merasa cukup kuat menghadapi perpisahan kedua orang yang kaubutuhkan, kau merasa sudah cukup sesak dengan kelakuan mereka, hingga kau mencurahkan cinta tidak pada tempatnya, ya kau mencintainya, cinta pertamamu yang tampan saat itu kausebut. Ia yang kauberikan segala yang kaupunya, ia yang mereguk nikmatnya dunia dari cawan sucimu, ia yang menuangkan benih yang kemudian kau bunuh dengan kejam. Ia yang dikemudian hari selalu berusaha kauhapus dari sejarah panjang hidupmu, ah tahukah kau betapa ia pun menaruh sesal yang mendalam, ia hanya terlalu idiot untuk merasakan.

Puluhan tahun kini kaujalani hidupmu, puluhan kali masalah telah kaulewati, bahkan puluhan sensasi telah kaukreasikan cukup apik selama kurun waktu 10 tahun. Kau bangga karenanya, karena ceritacerita miring yang beredar atas namamu, karena banyaknya pengalaman spektakuler yang menimpamu, karena takdir yang terlalu dramatis untukmu. Belum belum, kaupikir ini semua belum cukup, hidup belum cukup menorehkan luka sedalam ia torehkan suka dihidupmu, Tuhanmu bahkan terlalu memanjakanmu, ah kau ini…selalu berhasil membuatku iri hati.

Lalu kau lelah, kau ingin berhenti memainkan peran yang sensasional, kau ingin mengganti jalur karaktermu menjadi manusia yang normal, manusia yang sepatutnya hidup dan memadati dunia yang semakin sempit. Maka kau dipertemukan dengannya, dengan malaikat yang membuatmu jatuh hati, dengan hadiah Tuhan yang diberikan untuk memupus luka hatimu. Ia ya ia, ia yang akhirnya menjagamu selama 3 tahun, ia yang menanti dan berjuang untukmu tanpa henti.

Ia hadir di hidupmu tanpa sengaja, di suatu malam temaram dimana bulan tersipu malu, dan bintang-bintang riang bermain memenuhi bimasakti. Ia seperti sengaja turun ke bumi, mengalunkan nadanada indah dengan dawai Icarus, membuatmu terbuai dengan pesonanya.

Ia bukan hadiah yang dibungkus rapi, ia tidak tampan seperti pangeran dari negeri impian, ia bahkan tidak mahir berkuda dan mengayunkan pedang, jemarinya yang lentik dikreasikan Tuhan untuk menciptakan nada lewat tuts-tuts grand piano, jemari itu pula yang membuatmu terajam asmara.

Dalam malam tak sengaja itu kauserahkan lagi tubuhmu, tapi kali ini tanpa penyesalan, kalian bersanggama semalaman, kau bersamanya meresapi kenikmatan dunia, bukan hanya tubuh kalian yang merapat, namun hati kalian pun menggelinjang kegirangan, semesta raya seakan bersorak untuk leburan yang kalian lakukan.

Tahun demi tahun kau lewati dengan pancaran cinta kasihnya, namun kau begitu kejam hingga membalas perasaannya dengan dusta, kau menikmatinya kah?benarkah kau merencanakan sebuah konspirasi busuk untuk malaikat hadiahmu?aku berusaha untuk tidak percaya, untuk tetap teguh mempertahankanmu dalam posisi protagonis, tapi…tapi mengapa kau benar-benar menyakitinya, kau memasungnya dalam kasih, dan menggerogotinya lewat cinta, kau membuatnya mematahkan sayap—kau membuatnya terluka.

Hingga akhirnya ia kau usir pergi jauh dari hidupmu karena tidak melakukan kesalahan apapun.

Setelah itu kau berjalan tersendat, kau tidak lagi diberikan hadiah oleh Tuhanmu atas kesalahan fatal yang lalu, janganlah kau gelengkan kepalamu itu untuk menyangkal, kau melakukan perbuatan fatal, kau membuang hadiah Tuhanmu, kau menolak pemberian dari Yang Maha Kuasa, kau melemparkan malaikat ketika separuh sayapnya telah kausembunyikan, kau memang nakal…aku tak heran jika Tuhan murka padamu, jika Ia enggan memberikan lagi hadiah lainnya, ah kau masih saja penuh keyakinan, kau masih saja percaya bahwa kemarahanNya hanya sementara, kau benarbenar percaya atau hanya purapura yakin untuk kembali memenangkan ujian kesabaran kali ini?!?

Muka bumi ini kauanggap tak berguna, tak ada lagi malaikat yang rela turun untuk menyelamatkanmu, mungkin hanya sang Penebus yang masih menaruh belas kasihan padamu, itupun kuyakin karena ia putra Yang Maha Kuasa. Kau kembali seperti yang kukenal dulu, kau yang sensasional, dan tak hentinya memaksa penata lakon semesta untuk membuatkan drama terbaik sepanjang masa. Kau…aku pun kehabisan kata-kata.

Hingga siang ajaib itu datang, salah seorang kawan manawarkan bantuan, kau yang kukenal arogan menggenggam tangannya erat, pertanda kau setuju akan penawarannya. Kau melangkahkan dengan pasti ke arah secercah cahaya saat itu, hatiku bungah melihatnya kau membuatku bangga dengan kemantapanmu, kau membuatku terpukau dengan kesanggupanmu, kau mengemban tanggung jawab baru kini.

Berbulan-bulan kau tenggelamkan diri dalam arus pekerjaan, kau menikmati segala lelah dan sakit pinggang yang mendera setiap hari, kau mencintai dunia barumu, Tuhan benarbenar memanjakanmu, aku benarbenar iri padamu…ah!

Sesosok siluet muncul di hadapanmu di teriknya siang, di selasela kesibukanmu yang yang makin meraja, ia yang asing hadir di hidupmu dengan keadaan tak biasa, ia seakan membangkitkan kenangan yang lama kauendapkan, ia membuka sedikit ruang tak bernyawa di harihari mu yang makin kaku, aih dia berusaha memikatmu…sadarkah kau, sadarkah yang dia perbuat, sadarkah kau akan usahanya…kau pun merasa, hanya saja kau masih kecewa, kau terlalu penakut untuk kembali pulang kerumah.

Aku yang mendorongmu untuk sedikit memperhatikannya, aku yang memberimu kuasa untuk bertatap muka dengannya, tidakkah kau lihat betapa dia pun ingin merengkuhmu, betapa sakit yang luar biasa itu membuat kalian berdua patut bersentuhan, ayolah kali ini saja…turuti saranku, buka pintumu itu sedikit saja, biarkan pengap di dalamnya menyusup dan bermain-main dengan angin semilir.

Angin semilir itu berubah menjadi badai di suatu malam. Ratusan hari setelah akhirnya pintu rumah kembali kaupersilahkan terbuka lebar. Ya OK…kau kembali merengut kepadaku, karena atas dukunganku pulalah kau akhirnya kembali membuka diri, tapi bukankah memang seharusnya manusia selalu membuka diri, menikmati cinta yang setiap detik diciptakan Tuhan. Sudahlah, cinta dan rasa sakit memang memiliki pertautan yang amat erat, mengapa tak kau resapi saja segala pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Dia memang hanya sementara hadir di hidupmu, tapi bukankah ia pula telah memberikan sesuatu yang sama bermaknanya dengan yang lain. Bukankah kali inipun pelajaran gratis tentang hidup kembali kau dapatkan. Meski angin itu berubah menjadi si kejam badai, tidakkah kau mensyukuri tiupannya yang membuatmu melayang.

Kau memang melayang. Melayang tinggi sekali, terlalu tinggi hingga membuatmu terbang—terbang tinggi. Kau terbang menembus angkasa, melewati ratusan awan, menatap lekat bintang seperti saat kita bertatapan. Kau memang melayang. Melayang terlampau gampang, kemudahan yang membuatmu beharap tak pernah pulang—jangan pulang. Kau memang melayang. Merasakan tubuhmu mati rasa di udara.

Kau melayang…tak ingat lagi dimana pijakkan ditempatkan, tak ingat lagi bahwa manusia diciptakan berpasangan. Kini kau sudah begitu lelah. Lelah untuk selalu mengharapkan, lelah untuk selalu memimpikan, lelah untuk selalu menginginkan.

Kau berhenti berharap

Kau berhenti bermimpi

Kau berhenti berkeinginan

Kau hanya ingin melayang. Lepas di udara tanpa sesak dada. Kau hanya ingin diawang-awang, menikmati indahnya maya yang kau kreasikan begitu nyata. Kau hanya ingin terbang, setinggi-tingginya tanpa perlu landasan, terbang ke ujung langit dan tak lagi mampu menatap bumi. Kau hanya ingin pergi.

Aku tahu dengan jelas perih hatimu. Aku bisa merasakan dengan begitu nyata sakit jiwamu. Aku bisa mengerti kram otakmu. Aku bisa…aku bisa melihat bagaimana kau berusaha membendung deraian airmata, bagaimana kau meminta kuasaNya untuk menghentikan tangis hatimu, bagaimana kau alihkan segala perhatian dan membiarkan hatimu membatu, bagaimana kau menyenangkan dirimu. Aku bisa…aku bisa membayangkannya dengan jelas.

Jadi kemarilah dan bersandarlah sejenak, sebelum kembali kau teruskan perjalananmu kelak. Karena aku pun manusia pertama yang akan terbebani ketika kau tak kunjung sembuh. Bersandarlah di bahuku, menangislah sekencang tangis bayi, terisaklah seperti mereka yang sedang kelaparan. Aku ada disini…ada disini untuk membantumu kembali berdiri, untuk membantumu tersenyum kembali. Aku masih ada disini…masih disini untu membantumu berdiri.

Ayo kemari…kali ini satu jarum pun takkan kubiarkan menyakiti hatimu. Karena mulai sekarang akulah yang berkuasa, karena mulai sekarang hanya aku satu-satumya cinta sejatimu, tak perlu lagi kau cari pria lain untuk membasuh lukamu.

Aku ada, aku berkuasa, aku bertahta. Mari sini, titipkan keyakinan itu di diriku, karena akan kujaga sebaik mungkin dirimu seperti aku menjaga diriku sendiri. Percayalah padaku…seperti kau mempercayai Tuhanmu. Titipkan sejenak sakit itu di pundakku, biarkan lelah yang menjalar di hidupmu terbagi denganku, karena berbagai cinta yang telah kita lalui sudah sepatutnya ditanggalkan. Mari sini…mari berbagi…menikmati kecintaan terhadap diri sendiri. Cintailah aku seperti kau cintai mereka. Berikan aku kekuasaan yang sepadan. Biarkan aku berkekuatan penuh atas kendali dirimu…karena kau adalah cinta sejatiku, karena kaulah hidupku kembali berwarna, karena kau telah menyalakan terang di gelap jalanku, karena kau membuatku bangkit berdiri dan teguh sekuat baja, karena kau pahlawanku…karena kau adalah…aku.

*untuk keindahan sejati bernama Risqy Sagita Herzani

“because the greatest love of all…is loving ourselves”

Rumah

June 3rd, 2008 by oemar-meqy

Hutan ini memiliki sebuah jalan setapak berbatu, yang berliuk dan mungkin hanya mampu memuat tubuh kita satu persatu. Jalan setapak itu mengantarkan kita pada sebuah rumah, rumah mungil nan asri yang berwarna-warni, rumah yang juga hanya mempersilahkan beberapa tamu untuk bertandang. Terkadang rumah ini mengijinkan puluhan orang untuk masuk dan berdamai hati di dalamnya, namun rumah ini sejatinya hanya dimiliki seorang demi seorang. Rumah petak itu impian setiap individu, untuk pada akhirnya, berakhir tenang disana.

Perjalanan menuju rumah itu terjal dan berliku, tak sedikit mereka-mereka yang mencoba datang menyatakan pasrah dan berpaling meninggalkan tujuan. Tak sedikit pula akhirnya mereka mengutuk kesulitan perjalanan, merubah haluan dan membuat rumah nyaman tandingan. Namun kokohnya bebatu rumah begitu teguh, sampai saat ini saya belum menemukan pondasi macam begini, pondasi yang menggunakan kelemahan sebagai penunjang kekuatan Rumah itu dibangun atas nama keyakinan, rumah itu di poles dengan harapan, lalu dipercantik melalui puji-pujian. Rumah itu rumah yang mengantarkan saya menuju kesunyian, sepi yang sejati buah kesabaran. Rumah itu menebarkan harum kedamaian, di dalamnya kita dapat bercakap multi bahasa. Pemilik rumah itu mencintai keragaman, Ia yang berkuasa dengan senyum menawan, duduk manis mendengarkan segala cerita dalam beragam tata bahasa, dalam berbagai cara yang berbeda, dalam aneka paduan kalimat yang sarat makna. Rumah itu selalu ramai dengan celoteh riang para pengunjungnya, para pengunjung yang juga penghuni hutan.

Pada satu kesempatan, sebuah pesta digelar. Sang Pemilik mengundang seluruh penghuni hutan, hendak dirayakannya keceriaan atas indahnya hutan. Rumah itu pun dipenuhi penghuni hutan yang berbeda-beda. Sang Pemilik terlihat bahagia dengan berwarnanya segala rupa. Beda yang menyemarakan suasana. Para penghuni hutan terlihat santun dan rukun, satu dan yang lain bercengkerama secara halus, tidak ada yang mempermasalahkan dialek mereka yang saling berlainan. Alangkah indah…suasana seperti surga yang berada di dunia fana. Tawa lepas membahana. Kebahagiaan melingkupi suasana. Disini mereka bagai satu kesatuan yang saling bertautan, di rumah itu mereka saudara yang saling membutuhkan, di saat itu Sang Pemilik memutuskan sejenak meninggalkan hutan. Ia hendak jalan-jalan sejenak menikmati dunia luar, yang konon katanya memiliki sejuta keindahan untuk dapat dibawa pulang.

Perjalanan keluar begitu menyenangkan, segala bekal berupa buah-buahan dan sayuran yang terdapat di hutan Ia bawa serta. Terbayang aroma keindahan dari kejauhan, Sang Pemilik memimpikan pelajaran baru tentang kedamaian. Ia berjalan riang, melangkah tanpa gontai dan memikul penuh semangat perjuangan. Perjuangan akan kehidupan yang lebih baik setelah masa liburan.

Terhampar di bawah sana kota dalam bayangan, dengan petak-petak tanah yang tersusun indah. Sang Pemilik memandang dari kejauhan, dengan takjub Ia dibuat terpesona.

Kota itu tak terlepas dari andilnya sebagai penjaga kedamaian, dari sela-sela tenangnya hutan, Ia hembuskan nafas kehidupan bagi terciptanya suasana nyaman perkotaan, Ia terlihat puas dengan hasil karya yang dihasilkan, betapa menawan hamparan tanah di depan sana.

Mulanya tak terpikirkan untuk menjadi bagian dari suasana perkotaan. Namun terlintas dibenak Sang Pemilik untuk turun dan merasakan langsung nyawa jantung kota. Ia pun berjalan turun. Menanggalkan jubah agung yang diganti dengan pakaian sederhana rakyat jelata. Ia ingin berbaur, mengenyahkan segala macam pemujaan yang selama ini selalu melingkupi, menjadi manusia seadanya Ia putuskan.

Malam itu di bawah tebaran bintang yang bermesraan, sorak-sorai penghuni hutan mengiringi perjalanan Sang Pemilik Kedamaian.

Suasana kota itu memang menyenangkan, segala hiruk pikuk yang belum pernah Ia temui bertebaran. Keriaan ala dunia fana dengan segala aksesoris semesta. Keindahan memukau yang terlampau silau. Di sudut kota yang indah, Sang Pemilik menemukan kejanggalan, di kota itu hanya satu bahasa yang digunakan. Mereka yang ingin berbicara dengan bahasa lain harus jalan sembunyi-sembunyi dan berbisik-bisik, mereka yang berbeda dan minoritas tinggal di lorong-lorong kota yang sempit dan bau tengik. Kebebasan berbahasa samasekali musnah ditelan birokrasi kota yang sarat keseragaman. Bahkan hanya satu warna yang tercoret di dalamnya—putih suci wujud ketulusan.

Teriknya siang menarak perhatian Sang Pemilik, di alun-alun kota seorang pemuda berkata lantang dengan bahasa yang sengaja ia ciptakan. Terdorong perasaan muak akan keterkekangan membuatnya mengambil keputusan untuk berteriak kencang. Dimuka dunia dengan suara yang menggema ia gaungkan daulatnya sebagai Raja Dunia. Pemuda itu mencengangkan, keberaniannya luar biasa untuk suatu ketegangan yang sebelumnya tidak mungkin terwujudkan. Ditengah-tengah arus persamaan yang menggambarkan seberapa adil sentosa kota itu, satu generasi baru meneriakkan kalimat-kalimat penggilan untuk menghargai perbedaan. Ia yang gagah bagai patriot yang hendak maju berperang, dengan semangat juang bermimpi menghantarkan kotanya menuju arah perbaikan. Ia yang bertujuan melihat segala sudut pandang dengan lebih terang, maju tanpa gentar di medan laga melawan kuasa tiran persamaan. Ia yang berani bersinggungan, akhirnya mati di puncak tertinggi dan diarak keliling kota. Ia yang berani kembali membuat Sang Pemilik melantunkan luka hati.

Kota itu begitu mencintai persamaan, kota itu rela membunuh sesama yang enggan mengenakan jubah putih berkilauan. Kota itu rela berkata kasar kepada mereka yang berkata lain bahasa. Kota itu rela kehilangan saudara demi keyekinan yang dianggap benar. Kota itu menabuh genderang perang bagi mereka yang menolak jejalin kesamaan. Kesamaan yang samsekali tidak adil dan dengan liciknya memilih satu sisi.

Sang Pemilik akhirnya memutuskan pergi—berlari, berlari meninggalkan kota yang membuatnya sesak dan nyeri di hati. Kembali dalam lingkup kedamaian hutan yang menyambut gembira segala perbedaan Bernafas lega dalam suasana kehangatan yang dibagi pepohonan, dalam keriuhan yang diiringi cicit nyanyian, dalam kelegaan akan bebas yang diberikan hamparan rerumputan. Ia pun berlari, berlari sambil melepaskan pakaian putih yang wajib ia kenakan. Pakaian itu tidak dibutuhkan di dalam hutan, ada banyak warna yang bisa ia gunakan—pun jika ia memutuskan telanjang Kepolosan adalah sesuatu yang lumrah di dalam hutan, laki-laki dan perempuan dapat berjalan telanjang tanpa malu-malu, kesucian hati mereka melindungi setiap insan untuk tidak melanggar aturan. Namun lain hal terjadi di kota besar, kontaminasi arus persamaan melahirkan gerakan perbedaan yang membuncah. Pikiran-pikiran kotor menyisipi setiap kepala yang dimanipulasi kelicikan. Mereka terperangah melihat ketelanjangan badaniah di muka umum, mereka namakan kulit tak berbungkus pakaian sebagai aksi pencabulan.

Sementara Sang Pemilik berlari telanjang tanpa memikirkan tetek bengek akibat, pembesar kota menangkap aksi itu sebagai ulah sensasional yang mengganggu stabilitas keamanan kota. Diperintahkan bala tentara untuk mengejar lalu menangkap Sang Pemilik yang kini disinyalir sebagai biang keonaran. Seluruh kota gempar melihat aksi bugilnya, pertujukan pornoaksi (mereka sebut) itu menimbulkan komentar manis maupun pedas. Kaum mayoritas yang menyatakan diri mereka suci, mengutuk keras aksi tak senonoh itu. Sementara mereka yang minoritas dan berdiam di lorong, seakan mendapat hembusan kebebasan yang selama ini terpaksa dikungkung didasar-dasar comberan.

Sang pemilik tetap berlari kencang, kencang sekali hingga tak peduli keadaan sekitar. Ia hanya hendak pulang dan menikmati kenyamanan hunian. Ia hanya ingin kembali mendengarkan cerita-cerita dengan bahasa-bahasa yang tidak seragam. Ia hanya ingin kembali menikmati sayup-sayup bisikan kota dari kejauhan. Ia hanya ingin pulang.

Bala tentara terus mengikuti pelari bugil itu walau dari kejauhan. Mereka menguntit Sang Pemilik sampai masuk hutan. Betapa tercengangnya mereka ketika melihat berbagai perbedaan menyeruak di setiap permukaan. Para insan berbicara dengan cara dan bahasa yang saling tak seragam. Mereka kenakan pakaian-pakaian sederhana dengan warna –warni mencolok, bukan pakaian putih bersih seperti yang selalu dipakai penduduk kota. Tutur lembut para penghuni hutan tidak dilantunkan dengan dialek yang sama, mereka bahkan berjalan dengan cara yang berbeda.

“ini pelanggaran, ini pola hidup yang salah namanya”, seru panglima yang memimpin pengejaran Sang Pemilik.

Para Penghuni tertegun mendengar suara lantang yang bergaung di tengah harmonisasi hutan. Mereka saling bertukar pandang, bertanya-tanya siapa gerangan pria berjubah putih dengan pedang panjang di tangan.

Sang Pemilik pun tersadar, kenyataan bahwa Ia telah kembali di hutan, dan membawa para pecinta persamaan serta menyisakan sesal yang dalam.

“kalian melakukan kesalahan, tidak ada warna yang legal selain putih suci”, panglima itu kembali berseru.

Para penghuni hutan tak bergeming, mereka hanya terkesima memandang laskar putih asing.

“bertobatlah”, kali ini panglima itu berkata sambil mengacungkan pedang.

Mereka tetap diam dan terus memandang.

“bertobatlah atau berperang”, serunya kembali.

Salah seorang bocah lugu menarik kain ibunya dan bertanya, “apa itu perang, ibu?”.

Sang ibu pun menjawab dengan penuh kasih dalam bahasa yang jauh berbeda dengan putranya. Panglima Laskar Putih tanpa sengaja mendengar percakapan lain bahasa itu. Ia pun semakin membulatkan amarah. Hutan ini dipenuhi perbedaan yang menyesakkan, ia muak akan semarak kemudian berteriak…”tangkap pemimpinnya, bumihanguskan hutan maksiat ini, mereka sesat!!!”.

Seketika suasana hutan yang tenang berubah tegang. Para penghuni yang semula diam kini lari tunggang langgang, mereka memilih tak melawan karena tak mengenal kata berperang. Mereka belum pernah berlaku kasar, mereka bahkan tak sanggup menyakiti daun-daun di pepohonan. Laki-laki dan perempuan berhamburan menyebar di hutan. Pada satu titik mereka berkumpul di satu-satunya rumah tempat damai berpusat. Rumah itu masih menyisakan kehangatan disela-sela kericuhan yang terjadi. Sang Pemilik berdiri di garda depan demi melindungi hutan kedamaian. Sang Panglima tak kalah gentar maju dengan senjata dan tetabuh perang.

Satu persatu nyawa bertumbangan, para penghuni disiksa sampai mau menggunakan bahasa dan cara yang sama. Laki-laki maupun perempuan dipaksa dengan pedang tertantang untuk segera berpindah haluan. Mereka enggan, mereka memilih untuk tewas diujung pedang ketimbang harus menanggalkan harapan.

Mayat-mayat bergelimpangan. Dihadapan Sang Pemilik satu persatu harmoni hutan meregang nyawa, bahkan pepohonan berhenti melakukan fotosintensis, burung-burung tergelepar jatuh bagai rontoknya dedaunan. Sang Pemilik terdiam dengan luka sayatan mendalam. Rumah kedamaian dibakar hangus oleh Laskar Putih dengan penuh kebencian. Sang Pemilik melantunkan nyanyian pilu yang menggemakan harapan hutan di semesta luas. Kini kedamaian takluk dibawah senjata. Rumah yang selama ini menghangatkan hutan bersisa puing terbakar benci api kemarahan. Rumah itu kini hanya abu, abu yang bercampur deru, deru yang menggulung bersama debu…kedamaian yang pada akhirnya tersapu.

Hutan ini memiliki sebuah jalan setapak berbatu, yang berliuk dan mungkin hanya mampu memuat tubuh kita satu persatu. Jalan setapak itu mengantarkan kita pada sebuah rumah, rumah mungil nan asri yang berwarna-warni, rumah yang juga hanya mempersilahkan beberapa tamu untuk bertandang. Terkadang rumah ini mengijinkan puluhan orang untuk masuk dan berdamai hati di dalamnya, namun rumah ini sejatinya hanya dimiliki seorang demi seorang. Rumah petak itu impian setiap individu, untuk pada akhirnya, berakhir tenang disana.

*mengenang peristiwa berdarah pada 1 Juni 2008

Untuk saudaraku dengan bahasa yang beraneka.

s e p e r t i

May 13th, 2008 by oemar-meqy

seperti…

seperti aku

seperti kamu

seperti kita

seperti…

*ketika pesan singkat tuan langit biru nya datang

Katanya…Kata Saya

May 11th, 2008 by oemar-meqy

Katanya;

“sorry, you can’t count on me…”

            Count itu kan bisa dialihbahasakan menjadi percaya tokh?!?hmmm…Memang sejak kapan saya bisa mempercayai makhluk lawan jenis saya dengan maskulinitas berlebih itu. Sumpah mati saya nggak pernah percaya—bahkan terhadap Papa saya sendiri, yang notabene ayah biologis saya.

Jadi kenapa dia harus repot-repot mengirimkan pesan singkat ini, padahal dia tahu pasti kepercayaan tertinggi saya hanya pada diri saya sendiri. Disini saya benar-benar tidak mengerti, apakah dia mengkhawatirkan keselamatan diri saya atau diri dia sendiri, yang jelas rusak sudah hari ini.

Hari itu, hari dimana saya membaca sepenggal kalimat berbahasa asing itu, adalah hari terakhir saya menikmati ketenangan kota kecil yang hampir 15 tahun saya diami. Hari dimana seharusnya saya dapat menikmati sepuasnya farewell party dadakan yg diadakan salah seorang karib. Hari dimana saya (seharusnya) tenang sentosa.

Tapi…

Semuanya tidak terjadi. Segala rupa-rupi kebahagiann dengan ingredient kenyamanan serta ketenangan itu luluh lantak di hadapan monitor ber-merk mendunia dengan tulisan ber-font Arial size 12. Semua harapan saya dalam rangka menikmati ‘hari terakhir” itu musnah sudah. Hanya karena sepenggal kalimat pemutus harapan yang memutus tali hidup kesenangan saya seharian.

Kata Saya;

well…maksudnya apa??!??”

Katanya;

“ini udah keputusanku, maaf!”

            Hmmm…jadi ini dia pikiran saya yang sudah dikreasikan se-positif mungkin. Dimana letaknya keputusan saya berada kini. Dalam hemat saya sebagai seorang perempuan straight yang obviously menjalin hubungan dengan lawan jenis. Keputusan dalam suatu komitmen harus mendukung satu sama lain kan? Atau paling tidak, keputusan itu harus dibahas terlebih dahulu untuk akhirnya menjadi sebuah keputusan, benar kan?…menurut saya kembali yang sudah menghadapi puluhan kali gagal romansa ini, kegagalan saya sekarang sungguh bukan lagi suatu kegagalan—ini kekalahan mutlak. Dia benar-benar pemukul handal yang tepat mengenai dahi saya, tepat mengenai otak kiri lanjut ke otak kanan, yang akhirnya berhasil men-stimulasi diri untuk kembali bersedih hati.

Hebat…

Saya sungguh tidak menyangka, pria yang beberapa bulan ini saya puja setelah tahunan saya kering kerontang. Ternyata adalah seorang pematah hati yang sempurna. Dia iris pelan-pelan hati saya, dia kerat kecil-kecil sampai saya tak merasa, dia tusuk dengan lembut jantung yang saya pakai untuk menunjang hidup. Lalu tanpa ragu…dia patahkan hati, dikala saya mengira hati itu sudah sekuat baja—yang ternyata tidak!

Yah kiranya sekarang saya sadar, hak mutlak berkeputusan saya sudah menguap sejak kali pertama ia curi kesempatan mematahkan organ pembersih racun ini. Walau sedikit kesal tersisa sampai sesak dada, saya berusaha bersikap legawa. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan satu sikap egois yang berujung pembelajaran diri. Atau mengajarkan kekuatan tersembunyi untuk menyembuhkan luka hati. Ah saya mana tahu…mana saya tahu dengan isi semesta orang lain, meski dia laki-laki yang hingga detik ini saya cintai. Dia tetaplah dia. Seorang asing yang datang tiba-tiba, lalu menghilang bagai ditelan dunia.

Kata Saya;

“semoga sukses dengan keputusannya…”

Katanya;

(diam tanpa suara)

            Benar-benar suatu kesunyian yang menyiksa. Dia diam dan tidak mengeluarkan satu patah kata yang mampu membuat saya kembali terkesima. Pun tidak bertindak untuk memupus luka, padahal saya sungguh berharap dapat kembali melihat pesan singkatnya masuk ke dalam kotak surat.

Tidak juga..

Dia tetap saja diam

Bukan lagi pria kocak yang menyemarakkan hari saya seperti biasa, dia bahkan se angkuh batu sembahan wujud para Dewa. Dia bukan pria yang saya puja.

Otak saya sudah menyerah kalah, tapi hati saya enggan pasrah.

Ah biarlah…

Kata Saya;

‘i may have to fight a battle more than once to win it…”

Katanya;

“???, maksudnya apa?gw ga ngerti…”

            Akhirnya dia kembali ada. Walaupun kali ini dengan sosok yang sungguh berbeda. Saya belum pernah mengenalnya dari sudut pandang ini. Perubahan status membuat kami berdua saling tak bertautan, dia merasa hidupnya tak lagi harus ada di hidup saya, saya merasa dia sudah lama ada dan seharusnya tetap ada di hidup saya. Semesta kami saling bentrok, semesta kami saling tolak-menolak—semesta kami berpalingan.

Hati saya kembali perih, saya gigit bibir bawah sekeras mungkin untuk sekedar memindahkan perihnya. Tapi kuasa kesakitan badaniah tak sehebat bathiniah, saya tetap saja merasa perih, hati saya tetap terasa teriris.

Saya ingin berteriak di hadapannya, mengungkapkan sakit yang sekiranya dapat menyebabkan luka dalam permanen ini, tapi tidak…sergah otak saya cepat-cepat. Saya adalah pimpinan terbesar dalam seluruh jejaring sel di tubuh ini, saya adalah perempuan pemenang yang akhirnya lahir ke bumi, saya adalah ketangguhan sejati sumber kekuatan dari atas kepala hingga ujung kaki.

Tidak..tidak…

Tangisan, jerit kesakitan, keluhan, atau bahkan sedikit lenguhan hanya akan mengantarkan saya ke jurang neraka.

Tidak…tidak…tidak

Ungkapan rasa sakit yang berlebihan, hanya akan membuat luka ini memar, hati ini berubah biru, dan darah yang mngalirinya menjadi abu-abu. Saya belum mau mati lesu.

[Saya pun terdiam lemas, membayangkan tawanya yang pecah karena sakit yang saya derita membuat pikiran saya membuncahkan muak. Saya tidak ingin menyebar benih jijik diantara kami. Saya sungguh memujanya, hingga tak sanggup untuk menjadi salah 1 perempuan nista].

Katanya;

“Happy to read this… that says you’re OK, keep it!”

            Ratusan hari ketenangan sudah saya jalani. Kelebatan bayangannya hanya datang sesekali, bisa dikatakan saya sedikit happy. Beberapa sosok sempat mampir walau terpaksa saya usir pergi. Bukannya saya berniat menolak rezeki. Tapi saya masih tak sanggup menghadapi nyeri.

Jutaan puisi gagal saya karang, saya ingin sekali menulis satu dua bait untuk menggambarkan suasana yang kini terjadi. Tapi dominasi otak kiri begitu sakti, hati saya diam tak berkutik mendengar perintahnya untuk mematuhi hukum logika. Saya sebagai penguasa hanya diam berdiri dan bertugas mengamati. Biarlah para organ itu bekerja sesuai deskripsi mereka masing-masing, tugas saya disini tokh hanya berdiri.

Namun kembali secara tak diduga dia hadir kembali, kali ini bukan berbentuk pesan singkat melainkan testimoni. Ia tinggalkan sepenggal kalimat seperti biasa, penggalan yang dapat membuat seharian ini berubah total tak berarah, lagi-lagi…kenapa dia lagi.

Sinisme kembali menjalari urat nadi. Di ujung antah berantah sana mungkin dia dengan penuh arogansi menulis kalimat ini, dengan segala jumawa atas kemenangan mutlak yang sudah saya anugerahi.

Kamu pasti bahagia sekali…

Sebahagia saya menangisi kekalahan ini.

Sebahagia saya ketika mendapati diri jatuh tersungkur menyeret hati.

Sebahagia saya saat airmata mengering dini.

Kamu pasti bahagia sekali.

Mendapati seorang perempuan yang tersakiti tanpa caci tanpa maki

Kamu pasti bahagia sekali.

Meninggalkan saya sendiri.

Tapi seperti yang kamu katakan dengan jelas tadi, kamu lebih berbahagia melihat saya menulis cantik dan menggambarkan diri selayaknya perempuan kejam tanpa hati. Kamu lebih bahagia telah berhasil mentransformasi keseluruhan diri ini menjadi perempuan berhati besi. Terimakasih…

Akhirnya saya memang menjadi seperti perempuan dalam imaji. Tega, tanpa airmata, tanpa luka, tanpa siksa.

Saya perempuan terkuat di muka dunia yang berkata lantang bahwa jatuh cinta itu hanya manipulasi dunia untuk naik tingkat menuju moksha.

Kata Saya;

“gracias…i’m OK, i’m fine, i’m preety!”

Katanya;

“jangan telepon subuh-subuh lagi”.

            I won’t even…maybe i should not want it! So long…

            

*untuk yah siapa lagi kalau bukan “dia”

Saxophone

April 29th, 2008 by oemar-meqy

Ini hari selasa, hari tersibuk yang saya tahu dari salah satu survey yang dilakukan oleh para orang sibuk yang mungkin sedang tidak sibuk saat survey. Dan ini hari selasa, hari dimana saya pun menjadi salah satu manusia yang seharusnya mengalir di dalam kesibukan. Gelombang pekerjaan yang biasanya akan dimulai pukul 8 pagi, sudah saya majukan setengah jam, ini selasa dan selasa adalah assignment day gila-gilaaan.

Tapi…

Saya selalu menyukai selasa dengan segala kegilaannya, dengan segala kemacetan lalu-lintasnya, dengan segala ketidakbaikannya, dengan segala ke-khas-an selasanya.

Saya berjalan melenggang di pagi ini, menikmati udara Jakarta yang menerpa Sudirman, salah satu pusat perkantoran terbesar di ibukota yang punya obsesi menyerupai Manhattan. Pusat perkantoran dengan gedung-gedung tinggi yang menantang, di dalam gedung-gedung itu saya mencari kesibukan—mencari makan.

Udara pagi ini begitu sejuk, semilir angin yang meniup saya malu-malu mempercantik indahnya Jakarta pagi ini. Saya tidak mau kalah dengan kota ini, sepagian sudah saya berkutat di hadapan cermin untuk mempercantik diri—untuk menghargai kecantikan.

Indonesia memiliki kebiasaan yang akan menjamur di pagi hari, kebiasaan yang mewarnai indahnya keruwetan Sudirman. Kebiasaan itu berupa sapuan mata. Sapuan beberapa pasang mata sedikitnya telah membuat saya mengernyit, tapi kegiatan itu mulai saya nikmati sekarang. Persetan dengan pendapat mereka pada atasan saya, persetan pikiran mereka tentang rok yang saya kenakan, pun persetan kalau mereka agak kurang suka melihat stocking hitam saya, saya menikmati hari ini seperti saya menikmati pakaian beserta sapuan mata yang diakibatkan—saya menikmati selasa.

Ini hari selasa…hari dimana tuan langit biru bersinar cerah, polusi udara makin meraja, dan mobil-mobil di bawah jembatan mengerung tak keruan. Ini hari selasa…hari nya saya.

Arus lalu lintas dan arus manusia sama padatnya di hari selasa. Saya menciptakan alunan melody tersendiri untuk menikmati pagi dengan segala kesibukannya. Alunan yang mirip suara saxophone itu telah lama saya kreasikan. Alunan yang sengaja saya sembunyikan, saya simpan rapih-rapih di kepala, saya setting otak ini supaya mau diam dan tidak membocorkan simfoninya, saya blackmail hati saya supaya mau bungkam dan menikmatinya sendirian—menikmati notasi demi notasi saxophone dalam keriuhan Sudirman.

Ini hari selasa…hari dimana kesibukan yang memenuhi detik per detik hidup saya akan terbayar sore nanti, hari dimana alunan saxophone benar-benar akan memenuhi hari—memenuhi diri.

Dan disanalah dia berdiri, meniup saxophone yang sama. Saxophone yang selama ini mengarungi imajinasi, mimpi-mimpi indah dengan irama yang membangkitkan gairah. Dengan topi lusuh, kaus putih berpeluh, serta celana panjang denim yang sepertinya dicuci ratusan kali itu dia berdiri.

Jembatan penyeberangan dengan arus manusia yang constant tak membuat asanya terputus untuk terus meniup. Saxophone itu mengalun begitu indah, menyihir saya segera berlari menghampiri—memanjakan diri.

Dan disinilah saya di sore hari selasa, berdiri mengamati pria kurus dengan rambut keriting dan gaya yang itu-itu saja. Mendengarkan irama-irama dari tiupan yang dihasilkannya, mendendangkan alunan yang tertutup berisiknya sore—riuh yang membuat saya suka.

Saya berdiri tepat disamping kanannya, dari sini nada-nada saxophone itu terdengar jelas. Dari sini nada-nada itu berbisik…tentang cantik, tentang cinta, tentang indah—tentang saya dan saya.

Satu lagu telah dimainkan dengan sempurna, buat saya segala usaha manusia untuk mengkombinasi satu nada dengan lainnya selalu sempurna, saya menghargai karya cipta selayaknya saya menghargai seni itu sendiri. Dan sekarang saya dalam rangka menghargai sang peniup saxophone dengan mendengarkan dendangnya—dengan menatap ke tubuhnya lemat-lemat.

Saya jatuhkan lembaran uang ke dalam hardcase saxophonenya., bersiap kembali berjalan pulang. Kenikmatan hari ini terbayar sudah, kini waktunya saya untuk rehat dan melupakan segala kerumitan dunia.

“terimakasih”, pemuda itu berkata

Saya balas ucapannya dengan senyuman.

“jangan pergi”, kembali mulut kecilnya mengeluarkan suara.

Saya hanya menoleh dan mengelengkan kepala, ia tahu saya harus berjalan pulang.

“tinggalah untuk satu lagu lagi, saya mainkan special untuk kamu”.

Saya diam, berdiri, terpaku kali ini dari sisi sebelah kiri. Suara saxophonenya bercampur riuh kendaraan dibawah sana, tapi saya masih bisa menangkap keindahannya. Saya terpukau, lagu itu menyihir saya…menyihir sekitar saya.

“terimakasih”, kali ini saya yg berterimakasih walau tanpa suara, karena suara saya adalah diam yang membahana.

*untuk pria peniup Saxophone di jembatan penyeberangan

.

lagi-lagi…dia lagi

April 28th, 2008 by oemar-meqy

"kemudian saya kembali berjalan ke kota itu
dengan langkah pasti untuk uji nyali
menyiapkan diri bertarung dgn emosi…
lalu di hadapan saya dia berdiri
dengan senyum dan tubuh yg sumpah mati saya cintai…
ah dia lagi"
lagi-lagi…dia lagi

*Bandung, 27′04′2008 (ditengah renyah tawa yg sekian lama hilang)